Rabu, 02 Maret 2016

Cerita wayang penuh makna: Petruk Dadi Ratu


 Petruk adalah salah satu tokoh Punakawan dalam Pewayangan Jawa. Sebenarnya tokoh Petruk dan ketiga tokoh punawakan lainya (Semar-Gareng-Bagong) tidak terdapat dalam cerita kitab Mahabarata. Tokoh tersebut terlahir saat keadaan dan kondisi tatanan masyarakat Jawa di akhir abad 15 sedang dalam masa transisi. Saat itu agama Hindu adalah keyakinan yang utama di dalam masyarakat Jawa. Dan agama Islam saat itu mulai menyebar di beberapa daerah pesisir pulau Jawa.  Waktu itu Islam bagaikan seorang puteri yang sedang kondisi mengandung tua menjelang melahirkan. Perlu banyak usaha serta upaya yang gigih dan tanpa kenal lelah untuk dapat melahirkan bayi dengan mulus, tanpa kehilangan sang Ibu dan si Jabang Bayi. Salah satu upayanya yaitu melalui pertunjukan wayang, yang dilakukan oleh seorang sunan Kalijaga dengan memasukan konsep  dakwah Punakawan di setiap pertunjukan guna menarik minat serta mewartakan tentang Islam.
Lanjut pada cerita wayang “Petruk Dadi Ratu (Petruk Menjadi Raja)” itu merupakan salah satu cerita wayang karangan pujangga Islam dan tidak ada di dalam cerita Mahabarata. Banyak orang yang mengartikan bahwa lakon Petruk Dadi Ratu ini sebagai sebuah simbol atau sindiran akan ketidak becusan seorang pemimpin, atau seseorang yang tidak layak menjadi pemimpin dan di jadikan pemimpin sehingga hasilnya adalah kekacauan. Benarkah demikian…?

Ringkasan kisah Petruk Dadi Ratu.
Diceritakan Lakon “Petruk Dadi Ratu” ini, berawal dari pertempuran dua raja yang begitu sengitnya. Keduanya sama-sama sakti, sama-sama gagah perwira dan pilih tanding sehingga keduanya tak ada yang kalah dan tak ada yang menang. Keduanya bertempur karena memperebutkan pusaka Jimat Kalimusodo yang teramat sakti. 
Suatu ketika pusaka Jimat Kalimusodo tersebut hinggap pada diri Petruk.  Dengan pusaka Jimat Kalimusodo ditangannya dan kemudian mengamalkannya, maka jadilah Petruk seorang yang sakti mandraguna, gagah perkasa, tanpa tanding. Dengan kesaktiannya yang teramat sakti itu Petruk menjadi jumawa, angkuh, dan sombong.
Singkat cerita sang Petruk menjelma menjadi Prabu Kanthong Bolong, Petruk melabrak semua tatanan yang sudah terlanjur menjadi “main stream”. Dia menjungkir balikkan anggapan umum, bahwa penguasa boleh bertindak semaunya, bahwa raja punya hak penuh untuk berlaku adil ataupun tidak. Bertindak semaunya terhadap rakyat dan juga kerajaannya.
Tentu saja, ulah Prabu Kanthong Bolong tersebut membuat resah raja-raja lainnya. Bahkan Kawah Candradimuka pun mendidih perlambang ada yang membahayakan pemerintahan kerajaan-kerajaan. Hingga keadaan semakin semrawut. Sampai akhirnya lurah Semar Bodronoyo turun tangan untuk mengendalikan situasi.
“Ngger, Petruk anakku”, Semar berujar pelan, suaranya serak dan berat seperti biasanya.
 “Jangan kau kira aku tidak mengenalimu, ngger!”
“Apa yang sudah kau lakukan, thole? Apa yang kau inginkan? Apakah kamu merasa hina menjadi kawulo alit (rakyat kecil)? Apakah kamu merasa lebih mulia bila menjadi raja?
“ Sadarlah ngger, jadilah dirimu sendiri”
Prabu Kanthong Bolong yang gagah dan tampan pun berubah seketika menjadi Petruk. Kemudian berlutut dihadapan Semar dan tersadarlah Petruk.
“Maka seharusnya penguasa itu menghargai kawula. Penguasa itu harus berkorban demi kawula, tidak malah ngrayah uripe kawula (menjarah hidup rakyat). Kwasa iku kudu ana lelabuhane (kuasa itu harus mau berkorban). Kuasa itu bahkan hanyalah sarana buat lelabuhan, kendati ia masih berkuasa, ia tidak akan di-petung (dianggap) oleh rakyat. Raja itu bukan raja lagi, kalau sudah ditinggal kawula. Siapa yang dapat memangkunya, agar ia bisa menduduki tahta, kalau bukan rakyat? Raja yang tidak dipangku rakyat adalah raja yang koncatan (ditinggalkan) wahyu,” 
Itulah sepenggal cerita wayang Petruk dadi ratu semoga bisa menjadi inspirasi buat kita semua.